Selasa, 22 Mei 2018

Ciptakan Keharmonisan Keluarga Melalui Cinta Terencana

Kebahagiaan didalam keluarga merupakan dambaan setiap individu. Siapa sih yang tidak mau mempunyai keluarga yang harmonis, baik hubungan antara suami istri, juga antara orang tua dan anak-anaknya.

Seperti yang kita semua ketahui, bahwa kebahagian dalam keluarga menjadi tolak ukur akan masa depan anak-anak dan rumah tangga keluarga. Aku sebagai salah satu anggota keluarga dari orangtuaku merasakan hal itu.

Keberhasilan setiap orangtua dalam mendidik anak-anaknya merupakan kebangaan yang hakiki. Orangtua mana yang tidak bangga bisa menyaksikan anak-anaknya berhasil dan sukses dalam meraih impian.

Namun orangtuaku tidak menekan kepada anak-anaknya untuk harus sukses dalam pendidikan atau karier. Buat orangtuaku yang terpenting adalah menjaga keselamatan dan menjaga kehormatan yang kami miliki.

Kedua orangtuaku selalu parno dengan kejadian-kejadian kriminal  di televisi atau hal-hal yang mengarah pada kejahatan, makanya mereka selalu memonitor kemana saja anaknya pergi, atau pergi dengan siapa.

Bahkan orangtuaku lebih senang teman-temanku yang main kerumah dari pada aku yang main kerumah teman-temanku. Tapi walau begitu, tetap saja ada aturan buat teman-temanku yang main kerumah. Kurang dari jam 9 malam harus udah pulang, khususnya untuk teman laki-laki.

Bapakku juga memberlakukan jam malam untuk menerima telepon dari seorang teman, baik perempuan atau laki-laki. Jam 9 malam adalah batas waktu terima telepon dari teman-temanku, terkecuali jika terima telepon dari saudara karena dianggap ada kabar berita yang penting.

Alhasil dari semua aturan-aturannya itu, aku merasa jadi agak kurang pergaulan sih. Aku sering protes sama mama, kenapa bapak tidak mengerti kalo anaknya sudah tumbuh dewasa dan sudah pasti bisa menjaga diri, tanpa harus dimonitor terus.

Mamaku hanya bilang, rasa kekhawatiran bapak sangat tinggi dan berlebihan memang, karena beliau tidak mau sesuatu terjadi sama anak-anaknya. Terutama tentang kehormatan yang harus dipertahankan dan dijaga oleh seorang anak perempuan.

Yeesss itu betul sekali, hal tersebut aku akui benar setelah menjadi orangtua. Contohnya sekarang aku sudah menikah dan mempunyai seorang anak laki-laki, walaupun anakku masih kecil, tapi rasa kekhawatiran yang dulu pernah dirasakan kedua orangtuaku dapat aku rasakan.

Seandainya bapakku tidak seperti itu, apa yang akan terjadi padaku ya. Secara aku pernah menjalin hubungan dengan sang mantan cukup lama, tapi berakhir mengecewakan, dan akhirnya kami putuskan untuk pisah.

Tapi Alhamdulillah selama menjalin hubungan kami bisa saling menjaga kehormatan. Sampai akhirnya selang beberapa bulan, Allah SWT mempertemukan aku dengan Jodohku yang sekarang jadi suamiku.

Hal ini lah yang menjadi kebanggaan kedua orangtuaku, bahwa dengan bisa menjaga kehormatan kami, maka bukan hanya bisa terhindar dari dosa tapi juga bisa menghindarkan kita dari  pergaulan bebas atau seks bebas.

Kemudian atas ijin dan ridho kedua orangtuaku, akhirnya aku menikah di usia 28 tahun sedangkan suamiku saat itu masih berusia 24 tahun. Iya dia memang lebih muda dari aku, tapi tanggung jawab dan keberaniannya sangat aku yakini.


Aku, suami dan anak pertamaku

Namun diusianya yang terpaut 4 tahun lebih muda dariku, mungkin bisa menjadi faktor penyebab terjadinya konflik-konflik rumah tangga yang cukup menguras otak, karena ada berbagai macam konflik rumah tangga yang cukup sulit diselesaikan.

Tapi walaupun begitu, aku dan suami tetap berusaha untuk memperbaiki letak kesalahan kami masing-masing. Karena dalam rumah tangga itu kan ada tahap-tahap, dimana kami harus bisa mengenal watak masing-masing, dan mencoba untuk saling mengerti mengenai watak atau sifat jeleknya kami yang cukup sulit untuk dirubah.

Apakah usia kami menjadi salah satu penyebabnya ?

Nah kebetulan beberapa hari yang lalu aku diundang oleh BKKBN dalam rangka menyambut hari Keluarga Nasional yang diselenggarakan di Taman Mini Indonesia Indah. Dalam event tersebut telah hadir ibu Eka Sulistya Ediningsih sebagai Direktur Bina Ketahanan Remaja BKKBN.

Ibu Eka Sulistya Ediningsih 

Sambil menyelam minum air, disini aku bisa mengetahui, seperti apa dan harus bagaimana dalam menciptakan keluarga yang berkualitas tersebut. 

Aku salah seorang yang beruntung bisa diberi kesempatan untuk hadir oleh Blogger Plus Community, untuk menyimak talkshow yang bertema “Membangun Keluarga Berkualitas Dengan Cinta Terencana”.

Ibu Eka dan Mba Resi sebagai founder BPC

Dari tema tersebut maka sudah bisa diketahui kan, kalau mau menikah itu perlu persiapan yang matang, mulai dari umur yang cukup, kesiapan mental dan tentunya kesiapan dalam mengelola keuangan keluarga.

Oleh sebab itu BKKBN mempunyai program baru untuk masyarakat Indonesia dalam rangka menciptakan keluarga berkualitas. Jadi bukan hanya program keluarga berencana saja yang menjadi sorotan BKKBN saat ini. 

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) juga bertanggung jawab dalam program kependudukannya untuk mengajak masyarakat dalam menciptakan Keluarga berkualitas atau terencana.

Dalam konteks kerjanya, BKKBN telah membuat program Kependudukan Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK). Program ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada para remaja masa kini, agar tidak salah melangkah untuk masa depan yang lebih baik.

Seperti yang dijelaskan oleh ibu Eka Sulistya, bahwa Edukasi yang diterapkan dalam menciptakan keluarga yang berkualitas itu ada 8 fungsi, yaitu : Agama, Sosial Budaya, Cinta dan Kasih Sayang, Perlindungan, Reproduksi, Sosialisasi dan Pendidikan, Ekonomi dan Pelestarian Lingkungan.

Sedangkan untuk menerapkan 8 fungsi tersebut, diperlukan 4 substansi Genre, yang dikenal dengan salam Genre, yaitu :


  1. Kependudukan dan pembangunan keluarga
  2. Kesehatan reproduksi remaja
  3. Keterampilan hidup/life skill (pengembangan keterampilan untuk remaja)
  4. Perencanaan kehidupan berkeluarga


Lalu ada beberapa Isu strategis yang harus diperhatikan oleh para remaja masa kini, yaitu :
  1. Aspek Yuridis tentang batas usia perkawinan
  2. Perilaku seksual pada remaja dan KTD sebagai penyebab perkawinan
  3. Kasus perkawinan anak
  4. Kasus kekerasan terhadap anak
  5. Kasus perceraian
  6. Perilaku menyimbang
  7. Kesetaraan gender dalam keluarga
  8. Keutuhan keluarga
  9. Keluarga dengan single parent
  10. Faktor kemiskinan

Dari poin-poin diatas, semoga para remaja masa kini bisa mengerti apa arti dari suatu perkawinan. Dimana saat ibu Roslina Verauli sebagai seorang psikolog yang turut hadir dalam event tersebut menjelaskan bahwa, "Usia pernikahan yang diajurkan itu di usia 21 tahun keatas, jangan terlalu muda atau terlalu matang usia".

Ibu Roslina Verauli (Psikolog) 

Karena itu akan berdampak pada pola pikir dua orang manusia dalam ikatan perkawinan. Ibarat kata, jika terlalu muda maka tingkat egoismenya masih tinggi, sedangkan diusia yang terlalu matang,  orang tersebut akan merasa mandiri, atau tidak saling membutuhkan. 

Melalui program Cinta Terencana tersebut, semoga para generasi penerus dapat memahami arti tujuan berumah tangga. Dengan menciptakan keluarga yang berkualitas, sehat, tangguh dan mandiri.

11 komentar:

  1. Bapak sifatnya yang melindungi , tegas membuat sang anak patut

    BalasHapus
  2. Karena cinta memang perlu direncanakan ya Mba, tapi yang jelas bukan direkayasa *malah lagu dangdut :D.

    BalasHapus
  3. Menjaga keharmonisan dan kedekatan emosi dalam keluarga memang penting, kita perlu duduk bareng, ngobrol ringan namun berkualitas.

    BalasHapus
  4. Dengan cinta terencana keluarga yang berkualitas, sehat, tangguh dan mandiri akan tercipta :)

    BalasHapus
  5. Wah, nice sharing. Thank you..Mbaaa...

    BalasHapus
  6. Kalau cinta terencana ini lebih menitikberatkan pada usia perkawinan ya mba ketimbang jumlah anak?

    BalasHapus
  7. Cinta terencana untuk mewujudkan keluarga yang bahagia. Nice sharing mbak, terima kasih.

    BalasHapus
  8. Teman2ku banyak yang nikah dan suaminya lbh muda, ada jg yang nikah jarak usianya jauh, tapi gk masalah sih, selama keduanya punya rancangan konsep rumah tangga yg oke.

    Emang kalau mau mewujudkan rumah tangga yg langgeng butuh bnyk perhitungan ya mbak, makanya suka sedih ma yg nikah2 muda hny krn meniru selebgram hohoho

    BalasHapus
  9. Harus benar2 terencana y mba ...jika mau semuanya berjalan sesuai rencana tidak bisa sekedar karena cinta

    BalasHapus
  10. ah memang keluarga adalah segalanya ya ka. mereka lah orang2 yg pertama menerima kita apa adanya, mereka yg mencintai kita dgn tulus

    BalasHapus
  11. Ya, bener sekali. Cinta terencana sangat perlu utk menjaga keharmonisan dan masa depan generasi yang unggul

    BalasHapus