Senin, 26 Maret 2018

Apakah Orang Dengan Penyakit Tuberkulosis (TBC) Perlu Dihindari ?

Hallo semua…bagaimana dengan kabar kesehatannya saat ini? semoga selalu sehat dan selalu dalam lindunga Allah SWT. Karena seperti yang kita tahu, untuk sehat itu sangat mahal. Maka doa aku setiap hari setelah selesai Sholat adalah meminta kesehatan jiwa dan raga.

Kesehatan merupakan faktor utama dalam hidupku, tapi bukan berarti sesuatu yang aku butuhkan tidak penting loh. Semua manusia setiap hari tentu membutuhkan apa yang mereka inginkan, seperti misalnya rezeki. Akan tetapi memiliki tubuh yang sehat juga merupakan rezeki sehat yang Allah SWT berikan untuk kita bukan.

Namun tentunya tidak semua manusia selalu diberi rezeki sehat, oleh sebab itu pertama kali doa yang aku panjatkan adalah meminta kesehatan jiwa dan raga untuk aku sendiri dan juga untuk keluargaku. Karena sakit itu bisa terjadi pada siapa saja, di usia muda ataupun tua, tak terkecuali usia balita.

Dalam tulisanku ini, aku akan bercerita sedikit tentang saudara sepupuku, sebut saja Anita (nama samara). Anita adalah saudara sepupuku yang saat ini sudah berusia 14 tahun dan sudah memasuki kelas 3 SMP. Saat usia 5 tahun, Anita sering sakit-sakitan, lebih tepatnya sering sakit Batuk yang cukup lama sembuhnya.

Orang tuanya sudah berkali-kali membawanya ke dokter, tapi batuknya tidak kunjung sembuh. Batuknya berdahak dan pergrakan nafasnya juga sangat cepat, serta nafsu makannya berkurang, sehingga badannya menjadi kurus. Aku sangat tidak tega melihatnya, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa saat itu.

Menurut penjelasan ibunya, dari beberapa dokter yang memeriksa Anita, ada yang berpendapat kalo Anita mengalami infeksi paru-paru. Lalu dokter lainnya mengatakan ada Flek didalam paru-paru Anita dan Flek tersebut harus dibersihkan dengan melakukan pengobatan rutin, yaitu meminum obat selama 6 bulan, kemudian jika masih ada fleknya, lanjut 6 bulan kemudian.

Entahlah penyakit pastinya apa, namun kekhawatiran orangtuanya pertama kali mengarah pada penyakit TBC atau Tuberkulosis. Tapi menurut semua Dokter yang memeriksa Anita, Alhamdulillah tidak ada yang mengatakan tentang penyakit tersebut.

Merujuk pada cerita diatas, kebetulan beberapa hari yang lalu aku di Undang oleh Kementrian Kesehatan melalui Blogger Crony Community untuk menghadiri Workshop Blogger "Peduli Tuberkulosis Indonesia Sehat." Workshop ini diadakan dalam rangka memperingati hari Tuberkulosis tanggal 24 maret 2018.


Dok. Twitter @KemenkesRI 

Dalam seminar tersebut ada beberapa Narasumber yang akan menjelaskan tentang penyakit tuberculosis dan cara untuk penanganannya. Narasumber tersebut antara lain yaitu :
  1. Dr. Anung Sugihantono, M.Kes (Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementrian Kesehatan RI) 
  2. Dr. Pandu Riyono (Ahli Penanggulangan Tuberkulosis)
  3. Bapak Edi Junaedi (Salah seorang mantan penderita penyakit Tuberkulosis Resisten Obat)

Apa itu Tuberkulosis ?

Tuberkulosis atau yang sering kita dengar dengan penyakit TBC, merupakan suatu penyakit yang bersumber dari kuman TB yang disebut Mycobacterium Tuberculosis. Penyakit ini dapat menular secara langsung melalui udara, jadi jika penderita TB terbatuk-batuk, bersin atau menyanyi didepan kita, maka penularan bisa saja terjadi.

Oleh sebab itu bagi penderita TB disarankan untuk menggunakan masker atau menutup dengan tissue jika sedang terbatuk. Atau bisa juga menutupnya dengan lengan siku. Contoh ada pada gambar dibawah ini. 


Etiket Batuk (dok.pri)

Hal ini untuk meminimalkan penularan secara langsung. Karena enyakit TB bisa menyerang siapa saja, bisa terjadi pada anak-anak dibawah 10 tahun, usia tua maupun muda terutama usia produktif diantara 15-50 tahun.

Akan tetapi kuman TB akan mati dalam beberapa jam di udara terbuka atau terkena sinar Ultraviolet matahari. Sebaliknya kuman TB akan bertahan selama beberapa jam apabila di dalam ruangan tertutup dan lembab.

Organ tubuh yang akan terkena dampak kuman TB ini adalah bisa menyerang Paru Paru, tulang, Kulit, Kelenjar dan lain-lain. Jika tidak ditangani secara langsung kuman TB bisa juga menyebabkan kematian.

Namun kebanyakan orang-orang di Indonesia malas untuk melakukan pemeriksaan secara dini. Hal ini terbukti dari data yang dijelaskan oleh Dr. Anung Sugihantono, bahwa dari tahun 1990-2014 ada sekitar 1.020.000 kasus penderita Tuberkulosis di Indonesia.

Dr. Anung Sugihantono (dok.pri)

Tapi baru sekitar 730.000 kasus yang sudah menjalankan pengobatan dan menerima fasilitas layanan kesehatan dari pemerintah, sementara sisanya 290.000 masih belum terdeteksi dan terlaporkan di SITT (Sistem Informasi Tuberkulosis Terpadu).

Gejala dan Penanganan Penyakit Tuberkulosis

Narasumber yang kedua yaitu Dr. Pandu Riyono menjelaskan seperti apa gejala yang timbul dan bagaimana cara untuk menanggulangi penyakit Tuberkulosis. Berikut adalah beberapa gejala-gejalanya :

  • Batuk berdahak ataupun tidak berdahak
  • Demam yang tidak terlalu tinggi
  • Berkeringat tanpa sebab terutama menjelang sore sampai malam hari
  • Nafsu makan menurun
  • Nyeri pada dada
  • Berat badan menurun
  • Batuk berdahak bercampur darah
Dari beberapa gejala diatas menunjukkan kesamaan dengan gejala yang dialami saudara sepupu aku (Anita), namun sampai sekarang walaupun Anita sudah dinyatakan sembuh, tetap aku tidak mengetahui secara detail tentang penyakitnya.


Dr. Pandu Riyono (dok.pri)
Dibawah ini adalah beberapa faktor yang dapat memudahkan penularan dari Kuman TBC, antara lain :
  1. Pasien TBC Paru dengan kuman Positif dapat menularkan secara langsung jika daya tahan tubuh rendah
  2. Jumlah percikan dahak di udara
  3. Sangat berdekatan dengan pasien TBC
  4. Orang-orang yang tinggal di daerah padat penduduk
  5. Orang yang bekerja dengan bahan kimia, beresiko menimbulkan paparan infeksi paru
  6. Daya tahan tubuh rendah, misalnya orang yang sedang mengidap penyakit seperti HIV AIDS
  7. Usia lanjut, anak kecil atau orang dengan Gizi buruk
Jika mengingat lagi ke cerita tentang Anita, sekarang aku paham setelah mengetahui tentang faktor penyebab diatas.

Jadi faktor penyebabnya ada di poin ke 5, bahwa pekerjaan papanya Anita saat itu memang berhubungan langsung dengan bahan kimia. Akan tetapi selain itu penyebab lainnya adalah karena udara lembab di dalam kamarnya Anita atau mungkin juga dari asap rokok, karena keluargaku sebagian besar memang perokok aktif.

Pengobatan Tuberkulosis

Pada dasarnya jika kita atau keluarga ada yang terdeteksi mengidap penyakit Tuberkulosis, sebaiknya segera cari cara penyembuhannya. Jangan sampai diabaikan atau menganggap sepele, karena jika penyakit TBC tidak ditangani secara cepat maka bisa mengakibatkan sakitnya semakin parah bahkan bisa menyebabkan kematian.

Berikut untuk Pengobatan TB ada 2 jenis, yaitu:

Pengobatan TBC Sensitif Obat

Pengobatan TBC jenis Sensitif Obat yaitu, pasien harus menjalani pengobatan selama 6-8 bulan. Pengobatan ini dibagi menjadi 2 tahap :
  • Pada tahap awal minum setiap hari selama 2-3 bulan
  • Pada tahap selanjutnya minum obat 3 kali seminggu selama 4-5 bulan
Pengobatan ini harus dilakukan tanpa terputus dan harus sampai tuntas, jika tidak tuntas penyakit ini akan berkembang menjadi TBC Resisten Obat. Atau jika di tahap pengobatan awal pasien sudah sembuh, tetapi gaya hidup dan asupan makanannya kurang baik, maka besar kemungkinan pasien TBC Sensitif Obat, penyakitnya bisa mengarah atau berkembang menjadi TBC Resisten Obat.

Pengobatan TBC Resisten Obat

Jika orang yang sudah terkena TBC Resisten Obat maka penyembuhannya akan lebih lama yaitu bisa lebih dari 2 tahun dan biaya pengobatan bisa mencapai 200 kali lipat lebih mahal. Penularannya lebih cepat kena sasaran, maksudnya orang dengan TBC Resisten Obat akan menularkan langsung dengan tipe yang sama kepada orang lain.

Dalam seminar tersebut, juga menghadirkan salah seorang "mantan" penderita TBC Resisten Obat. Beliau bernama Bapak Edi Junaedi yang akan membagikan kisahnya selama beliau menjalani pengobatan Tuberkulosis.

Kisah Bapak Edi Junaedi Mengenai Pengobatannya

Bapak Edi Junaedi adalah salah seorang yang pernah mengalami terserang penyakit TBC Sensitif Obat dan TBC Resisten Obat. Beliau bercerita bagaimana rasanya dikucilkan saat sedang merasakan penderitaannya sekaligus harus mengurus 2 orang anaknya seorang diri.


Bapak Edi Junaedi (dok.pri)

Bapak Edi harus menjalani pengobatan selama 21 bulan, dengan meminum obat setiap hari sebanyak 13 butir. Aduh aku sendiri merinding dan sekaligus merasa prihatin mendengar ceritanya. Lanjutnya lagi, efek dari obat-obatan yang dikonsumsinya mengakibatkan halusinasi yang cukup parah dan mengakibatkan Asam Uratnya tinggi.

Namun bapak Edi pantang untuk menyerah, beliau terus melakukan pengobatannya dan berjuang untuk sembuh sendirian (tanpa ada pendamping hidupnya). Sehingga akhirnya pada tahun 2017 tepatnya bulan Juni, Bapak Edi dinyatakan sembuh total dan bersih dari penyakit TBC Resisten Obat.


Sertifikat "SEMBUH" dari RS. Persahabat (dok. Helena) 

Tidak ada kata tidak mungkin sembuh jika Allah SWT sudah berkehendak dan jika seorang manusia merasa yakin dan percaya pada kebesaran Allah SWT, maka apapun yang kita harapkan In Sha Allah akan terkabul. Lalu saat ini bapak Edi aktif di kegiatannya untuk memotivasi para pasien TBC di Pejuang Tangguh (PETA).

Akhir kata yang ingin aku sampaikan “Janganlah mengucilkan penderita TBC, melainkan kita harus memberi mereka semangat dan perhatian agar keinginan untuk sembuh bisa tercapai seperti bapak Edi, serta jangan malu atau segan untuk memeriksakan penyakit ini, karena tanggung jawab kita untuk menjaga kesehatan tubuh kita, hanya kita sendiri yang bisa mewujudkannya”….Aamiin.

Semoga tulisan ini bermanfaat dan dapat memotivasi teman-teman  yang sudah terkena penyakit Tuberkulosis….SEMANGAT!!!

2 komentar:

  1. Mbak, berarti Anita sekarang udah sembuh? Udah ga ada flek di paru-paru lagi? Kasihan kalau masih kecil batuk-batuk terus. BB gampang banget turun.

    BalasHapus
  2. Sering batuk tidak hanya menganggu tapi juga buat kantong tepos . Untungnya pemerintah ngasih gratis obat nya. Alhamdullilah

    BalasHapus