Sabtu, 06 April 2019

Tangkis Eksploitasi Anak Untuk Kepentingan Iklan Rokok

“Sayang nanti kalau ada yang minta tolong kamu untuk dibelikan Rokok ke warung, jangan mau ya!”

Itulah kalimat yang aku tanamkan untuk anakku yang sudah berusia 10 tahun sekarang. Dan Alhamdulillah anakku langsung mengerti apa maksud laranganku. Karena dia tahu kalau rokok itu berbahaya, dan rokok itu pembunuh nomor 1. Serta asap yang dipaparkan dilingkungan perokok juga akan membahayakan bagi orang yang pasif pada rokok.

Keluarga aku dan suami rata-rata perokok, dan aku cukup khawatir mengenai keadaan tersebut. Khawatir akan dampak yang ditimbulkan untuk anakku, baik untuk kesehatannya dan juga image yang akan dia bawa sampai dewasa kelak. Tapi disini, aku berusaha untuk memberi dia masukan, kalau rokok sangat tidak baik untuk kesehatan kita dan lingkungan.

Ngomong-ngomong mengenai hal tersebut, beberapa hari yang lalu aku menghadiri acara yang diselenggarakan oleh Yayasan Lentera Anak, dimana pembahasannya adalah tentang Audisi Bulutangkis dalam rangka memenangkan Beasiswa untuk anak usia dibawah 18 tahun. Dan acara audisi ini diselenggarakan oleh salah satu brand rokok terkenal.

Tangkis Eksploitasi Anak dalam ajang Audisi Bulutangkis (sumber;google dok)

Sebagai orangtua, apabila anak kita berhasil memenangkan Audisi tersebut mungkin akan bangga. Tapi bagi sebagian orangtua mungkin tidak akan terpikirkan mengenai dampak yang akan diingat oleh anak-anaknya. Bahkan mungkin ada  yang berfikir seperti ini “Kan itu hanya iklan saja, tidak mungkin juga anak-anak akan disuruh mengisap rokoknya”.

Iya memang betul, tapi apa yang akan tertanam dibenak anak-anaknya kelak mengenai logo iklan tersebut, yang terpampang dengan jelas di baju yang mereka kenakan. Disini kita sedang berbicara tentang image, yang berarti mereka akan berfikir bahwa rokok itu hal yang biasa, image rokok akan menjadi positif, mereka akan berfikir bahwa rokok bukan hal yang berbahaya untuk kesehatan.

Lalu bagaimana jika ada pertanyaan dari anak-anak kita, seperti "kenapa ada iklan rokok di dalam Audisi tersebut, sementara rokok itu sangat berbahaya untuk kesehatan?". Nah, apa yang akan kita jelaskan pada anak yang bertanya seperti itu. Jujur kalau menghadapi pertanyaan seperti itu, mungkin aku akan bingung untuk menjawab.

Percuma saja aku menerapkan statement tentang “larangan membeli rokok diwarung” pada anakku, kalau seumpama aku sendiri melanggar apa yang sudah aku terapkan pada anakku, jika aku ada diposisi orangtua si anak yang mengikuti Audisi tersebut.

Memberikan penjelasan pada anak itu tidak mudah, apalagi anakku termasuk anak yang cerdas. Selalu banyak bertanya mengenai hal apapun yang dia hadapi, kita sebagai orangtua harus pintar memberikan penjelasan mengenai pertanyaan-pertanyaan mereka.

“Alam pikiran anak-anak itu seperti spons, mereka akan menyerap mengenai apa saja yang masuk ke dalam pikirannya. Apapun yang dikatakan orang lain, maka akan mereka telan bulat-bulat seperti spons”, ujar ibu Liza Djaprie seorang Psikolog yang hadir sebagai pembicara dalam event talkshow tersebut.


Liza Djaprie seorang Psikolog (dok.pri)

Image yang akan tertanam untuk anak-anak peserta audisi tersebut, akan berfikir kalau rokok adalah hal yang positif, apalagi yang ditampikan adalah ajang olahraga, dimana olahraga merupakan hal yang baik untuk kesehatan. Lalu bagaimana dengan rokok itu sendiri, yang sudah pasti sangat berbahaya untuk kesehatan kita, apalagi anak-anak. 

Menurut informasi yang aku dapatkan dari penelitian Yayasan Lentera Anak, ada sanggahan dari pihak perusahaan rokok tersebut, bahwa Audisi itu bukan suatu penyalahgunaan hak kesehatan anak, mereka berdalih memfokuskan event tersebut adalah murni pembiayaan dari perusahaan brand rokok tersebut, dengan tujuan pemberian beasiswa sekolah untuk anak-anak.

Perwakilan Yayasan Lentera Anak (dok.pri)

Akan tetapi, menurut praktisi pemasaran dan branding yaitu Gian Carlo Binti, menjelaskan bahwa kegiatan perusahaan yang menunjukkan logo produk itu udah termasuk promosi. Sementara dalam ajang Audisi tersebut, sangat jelas terpampang logo brandnya di bagian depan kaos olahraga yang dikenakan anak-anak peserta audisi.

Jadi apalagi yang bisa kita tangkal bahwa kegiatan tersebut adalah untuk kegiatan  promosi, bukan kegiatan olahraga semata. Kemudian dalam penelitian tersebut juga menjelaskan bahwa, dalam 10 tahun terakhir ini, jumlah peserta audisi meningkat hingga 10 kali lipat, akan tetapi jumlah penerima beasiswanya tidak bertambah.

Nah disini sudah jelas bahwa tujuan dari ajang audisi ini, murni promosi atau murni untuk kepentingan perusahaan saja. Oleh karena itu, sebagai orangtua kita harus aware mengenai hal ini, dan memikirkan berkali-kali apakah ajang audisi seperti ini layak untuk masa depan anak-anak kita kelak.

Jangan hanya karena iming-iming beasiswa atau apapun itu, tanpa memikirkan dampak baik buruknya untuk perkembangan otak anak-anak kita. Jangan rasuki otak anak-anak kita, dengan suatu hal yang bukan pada porsinya. 

Aku dan teman-teman blogger lainnya menandatangani petisi ini untuk Siap Tangkis Eksploitasi Anak (dok.pri)

Semoga tulisan ini dapat dipahami, dan sebagai orangtua sudah saatnya kita berfikir pintar serta bijak. Jangan sampai kita dimanfaatkan oleh apapun yang akan membayakan pemikiran anak-anak kita.



1 komentar:

  1. Semoga anak-anak kita bisa terhindar dari pengaruh buruk lingkungan ya mba, terutama rokok ini.

    BalasHapus