Kamis, 15 November 2018

KUKM Siap Hadapi Tantangan Perubahan Perekonomian Tahun 2019

Membicarakan tentang perekononomian Negara menurutku memang agak sulit untuk dipahami, tapi tentu perlu untuk kita ketahui. Karena sebagai warga negara Indonesia, kita berhak mengetahui gejolak perekonomian yang sedang berjalan saat ini atau juga untuk yang akan datang.

Hal tersebut, tentu bisa dijadikan sebagai gambaran untuk para pengusaha kelas kecil sampai besar. Jujur saja aku pribadi sebagai rakyat biasa, terkadang merasa bingung mencari jalan untuk usaha. Mengingat akhir-akhir ini, banyak sekali orang-orang yang mempunyai usaha sendiri dan berakhir dengan gulung tikar alias bangkrut.

Contohnya temanku yang bergerak di usaha pembuatan baju hand made, usahanya terpaksa harus gulung tikar karena selain pembeli sudah berkurang, harga sewa tokonya pun semakin mahal. Tapi bukan hanya temanku yang mengalami hal tersebut, beberapa teman lainnya yang mempunyai usaha di dalam mall yang sama, juga beberapa ada yang menutup usahanya.

Entah apa yang terjadi, padahal saya tahu persis bahwa peminat produknya itu banyak, bahkan ada yang mau menjadi partner usaha atau reseller. Kemudian aku berpikir, apa mungkin ada hubungannya dengan perekonomian masyarakat yang sedang mangkrak yah, karena dampaknya sangat terasa sekali akhir-kahir ini.

Pada saat itu memang aku belum begitu paham tentang adanya gejolak dalam perekonomian negara. Hingga pada beberapa waktu yang lalu aku berkesempatan untuk hadir di Forum Diskusi yang diadakan di Gedung Kementrian Koperasi Dan UKM.


Narasumber Forum Diskusi di Kementrian Koperasi Dan UKM (dok.pri)

Tema dalam forum tersebut membicarakan tentang “Proyeksi Perekonomian 2019, Peluang Dan Tantangan Bagi KUKM” Waahhh dalam hatiku ini kebetulan sekali, informasi tersebut sangat aku butuhkan untuk gambaran jika suatu hari nanti aku dan suami ada keingininan untuk membuka usaha. Pada saat seperti apa waktu yang pas untuk membuka usaha, karena jujur saja aku dan suami jarang mencari tahu info-info tentang pasar peronomian Negara, apakah sedang naik atau malah turun.

Nah dalam diskusi panel tersebut hadir 3 orang Narasumber yaitu :

  1. Bapak Ahmad Zabadi sebagai Kepala Biro Perencanaan kementrian Koperasi Dan UKM
  2. Bapak Ryan Kiryanto sebagai Corporate Secretary & Chief Economist BNI
  3. Bapak Juan Firmansyah dari Du Anyam, perwakilan pelaku usaha para pengrajin rotan (Bussiness Development & Sales Officer Du Anyam).

Penjelasan Bapak Ahmad Zabadi

Diskusi diawali oleh Bapak Ahmad Zabadi yang menjelaskan pernyataan bahwa, "pada saat ini sistem koperasi di Indonesia sudah menggunakan teknologi digital, jadi semua sistem yang terkait dengan kegiatan koperasi negara akan terkontrol dengan mudah".


Pembicara bapak Ahmad Zabadi (dok.pri)

Dengan menggunakan sistem digital maka akan terlihat, koperasi mana saja yang masih aktif atau tidak aktif. Dan pemerintah pun selalu berupaya untuk mendorong para pelaku usaha yang tergabung didalam koperasi untuk selalu produktif dalam menjalankan usahanya, agar kesejahteraan dalam anggota koperasi akan selalu berjalan dengan baik. 

Hal tersebut dibuktikan dengan dipermudahnya semua sistem data yang berhubungan dengan koperasi tadi dengan metode digitalisasi, dan hal ini tentu akan lebih diminati oleh para Millenials yang menyukai sistem kerja secara digital. 

Kemudian saat ini pemerintah juga mempermudah dalam perijinan usaha, termasuk mempermudah dalam pemberian bantuan usaha serta sering memberikan pelatihan kepada para pelaku usaha yang baru memulai usahanya, dan membantu dalam memasarkan produknya juga.

Waahh boleh juga info ini aku sampaikan ke temanku yang usahanya sudah ditutup yah, karena temanku sangat menginginkan sekali membuka usahanya lagi. Tapi pada saat ini belum mempunyai modal untuk membuka usaha, karena sepertinya dia harus memulainya lagi dari nol.

Nah dengan info yang aku dengar dari penjelasan bapak Ahmad Zabadi tersebut, jujur saja aku semakin tercerahkan dengan diaksesnya atau diterapkannya sistem teknologi, karena kita tidak perlu susah untuk memasarkan produk dengan menyewa toko atau ruko yang pastinya, harga sewanya lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya.

Kita bisa memasarkannnya melalui E-Commers atau toko-toko online. Tidak perlu ribet dan tidak perlu modal yang besar, yang tentunya para anak-anak muda juga akan lebih melirik toko online dari pada toko-toko offline.

Dengan demikian bapak Ahmad juga mendorong para pelaku UKM untuk selalu optimis dalam menghadapi tantangan perubahan perekonomian yang selalu pasang surut, karena banyak peluang yang bisa diraih dengan berkembangkanya teknologi digital tersebut.

Akan tetapi, tentu tidak hanya itu saja yang harus kita perhatikan untuk memulai usaha, seperti yang sudah aku katakan tadi, bahwa kita juga perlu tahu perubahan ekonomi di Indonesia, pada saat ini dan di masa yang akan datang. Karena besar kemungkinan bisa berpengaruh juga pada sistem perdagangan.

Penjelasan Bapak Ryan Kiryanto

Nah mengenai info tentang perubahan perekonomian di Indonesia, disampaikan oleh bapak Ryan Kiryanto dari BNI. Beliau menjelaskan tentang “Perkembangan Ekonomi Indonesia 2018 dan Outlook 2019”. Jadi disini kita akan melihat seperti apa sih perkembangan perekonomian ditahun 2018 dan bagaimana gambaran atau proyeksi perkembangan perekonomian Indonesia di tahun 2019.


Pembicara bapak Ryan Kiryanto (dok.Pri) 

Menurut bapak Ryan, angka pertumbuhan ekonomi global lebih rendah dari perkiraan yang gambarkan pemerintah. Hal tersebut disebabkan karena menguatnya perekonomian di Amerika Serikat. Sedangkan pertumbuhan perekonomian di negara-negara emerging market dan Eropa, diperkirakan lebih rendah dari perkiraan awal. Hal tersebut akan berdampak pada menurunnya pertumbuhan ekonomi global.

Sehingga pada akhirnya akan berpengaruh juga pada pasar keuangan global yang juga dipengaruhi oleh kebijakan Amerika Serikat, sehingga kenaikan dollar AS akan terus menguat. Dengan menguatnya dollar AS tersebut, maka akan mendorong para investor untuk mengalirkan dananya keluar dari emerging market dan menempatkan dananya di aset-aset yang lebih aman.

Dengan menguatnya dollar AS, para investor akan menganggap adanya peningkatan resiko pada emerging market. Dan ini juga akan sangat berpengaruh pada perdangan dunia dan harga komoditas pun akan melambat. Maka akan sangat mungkin, berpengaruh juga para pertumbuhan ekonomi yang melambat.

Hal ini terlihat pada pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2018 ini, yang ternyata tidak sekuat perkiraan semula, ujar bapak Ryan. Cadangan devisa pada bulan September 2018 berada pada level yang cukup tinggi yaitu 114,8 milliar dollar AS, walaupun dibulan sebelumnya nilai tersebut lebih rendah dari 117,9 milliar dollar AS.

Penururnan tersebut dikarenakan pada bulan September nilai tukar rupiah masih mengalami depresiasi yang terus berlanjut pada oktober 2018. Dan seperti yang sudah kita ketahui juga bahwa, beberapa bulan yang lalu di Indonesia telah terjadi berbagai bencana alam. Tentunya hal itu sangat berpengaruh juga pada pertumbuhan perekonomian Indonesia.

Ditambah lagi, pada saat ini semakin bertambahnya persaingan produk-produk luar yang masuk ke Indonesia seperti dari Vietnam. Hal tersebut bisa dibuktikan dari data proyeksi pertumbuhan perekonomian negara Asean, dimana Vietnam menduduki urutan ke 3 setelah Myanmar dan Laos. 

Oleh sebab itu kita sebagai warga nergara Indonesia harus mampu bersaing dengan para pelaku usaha dari luar atau produk luar. Sebagai contoh yang dilakukan oleh pelaku Usaha Du Anyam, yang bisa mengembangkan produknya dengan memanfaatkan bahan lokal seperti Rotan.

Penjelasan bapak Juan Firmansyah

Bapak Juan Firmansyah dari Du Anyam menjeleskan bahwa pemanfaatan bahan lokal tersebut, selain bertujuan untuk mengembangkan kearifan lokal bangsa Indonesia itu sendiri, juga bertujuan untuk mensejahterakan para pengrajin di daerah Flores.


Pembicara Bapak Juan Firmansyah (dok.pri)

Alasannya adalah karena para pencari nafkah disana kebanyakan para ibu rumah tangga, yang suaminya harus bekerja keluar kota dengan jaraj tempuh cukup jauh dari desanya. Sehingga para suami pun tidak bisa sering pulang untuk bertemu keluarganya. Selain itu mereka juga memperhitungkan biaya transportasi yang tidak sedikit.

Oleh sebab itu untuk memenuhi kebutuhannya, para ibu rumah tersebut harus mencari tambahan nafkah dengan bekerja. Sebelum Du Anyam masuk ke daerah tersebut, mereka bekerja sebagai petani dan pekerja kasar lainnya, yang tentunya akan membahayakan keselamatannya. Dan tak jarang juga ada beberapa anak yang meninggal dunia karena kurang perhatian ibunya, serta banyak yang mengalami  kesehatan karena sang ibunya tidak sempat memperhatikan nutrisinya.

Oleh sebab itu lah, Du Anyam merasa perlu membantu mereka dengan cara memberikan lowongan pekerjaan kepada para ibu rumah tangga untuk bekerja tanpa ada resiko yang dapat membahayakan keselamatannya dan mereka pun bisa bekerja sambil menjaga anak-anaknya.

Pada saat event Asian Games beberapa waktu yang lalu, Du Anyam juga ikut menyiapkan produk-produknya untuk Merchandise yang terbuat dari Rotan loh. Untuk cerita lengkapnya bisa dilihat Disini yah.

Pada tahun yang akan datang yaitu tahun 2019, Du Anyam siap meluncurkan website E-Commerce B2B dan Retail. Dengan dibuatnya sistem penjualan secara Digital tersebut, maka akan memudahkan penjualan. Karena pada tahun tersebut Du Anyam akan mendistribusikan penjualannya ke negara-negara Eropa.


(dok.pri)

Waahhh….patut dicontoh dong optimisme pelaku usaha seperti Du Anyam tersebut yah. Semoga ditahun-tahun yang akan datang, akan semakin banyak para pelaku usaha yang membuka usahanya dengan membuat produk-produk buatan sendiri. Dan semoga informasi ini juga berguna, bagi yang mau membuka usaha baru dan juga bagi yang ingin mengembangkan usahannya.





1 komentar:

  1. Kemudahan yang diberikan oleh pemerintah diharapkan bisa menjadi bantuan tangan dari Tuhan untuk menjadikan usaha teman mu bangkit dan berjalan.

    BalasHapus