Kamis, 25 Januari 2018

Cegah Stunting Dan Obesitas Pada Anak Sejak Dini Untuk Mewujudkan Generasi Emas 2045

Hallo semua….Happy New Year 2018

Teman-teman pembaca setiaku, di awal tahun 2018 ini mari kita awali dengan sesuatu hal kebaikan yang sudah kita niatkan sebelumnya atau sudah kita niatkan dari tahun sebelumnya. Perubahan apa sih ?

Tentunya perubahan menuju perbaikan dong ya, dimulai dari diri kita sendiri dan keluarga tercinta kita terutama anak-anak kita. Secara garis besar blog ku ini memang lebih sering bercerita tentang segala hal yang berhubungan dengan Parenting.

Salah satu tema parenting yang sering aku bahas adalah mengenai tumbuh kembang anak. Ada beberapa alasan kenapa tema ini sering sekali aku bahas dalam blog ku ini, berikut beberapa hal yang menjadi fokus utama pengawasanku terhadap anakku :

“Buatku anak adalah harta satu-satunya yang kita miliki, melebihi apapun di dunia ini”

“Kesehatan dan keselamatannya adalah hal utama yang harus aku pertahankan atau lindungi”

“Kecerdasan anak-anak merupakan kebanggaan kita sebagai orang tuanya, dan tidak menutup kemungkinan bisa sangat berguna juga bagi kita sendiri ataupun untuk orang lain”

Dari ketiga hal diatas faktor pendukung utamanya yaitu kasih sayang dan perhatian. Perhatian disini tentu bisa kita wujudkan melalui pemberian nutrisi yang tepat dan seimbang untuk anak-anak kita. Kenapa nutrisi menjadi faktor utamanya ?


Seperti yang sering aku bahas di blog aku sebelumnya tentang parenting, bahwa untuk menciptakan anak yang sehat, cerdas, tumbuh kembang badannya normal dan sesuai di usianya, yaitu dengan memperhatikan pemberian nutrisinya.

Mengingat beberapa tahun terakhir ini atau mungkin juga terjadi di tahun yang akan datang, semakin banyak anak-anak tumbuh dengan kekurangan fisik dan mental. Beberapa faktor penyebabnya adalah karena kekurangan gizi seimbang.

Menurut data yang dilansir dari WHO pun menunjukkan bahwa balita yang menderita Stunting (bertubuh pendek) tercatat sebanyak 7,8 juta dari 23 juta balita yang ada di Indonesia. Ini berarti sekitar 35,6% anak menderita Stunting. Dengan perincian 17,8% bertubuh pendek dan 18,5% bertubuh sangat pendek. 


Dari data WHO diatas menetapkan bahwa negara Indonesia termasuk negara dengan status Gizi Buruk. Penjelasan materi ini aku dapat dalam seminar Peringatan Hari Gizi Nasional 2018 yang aku hadiri bersama Komunitas Blogger Cihuy pada tanggal 23 Januari 2018 kemarin, yang dijelaskan oleh narasumber yang pertama yaitu ibu Hj. Hayati Said Agil Siradj MA, Ketua Pengurus Harian PP Muslimat NU.

Hj. Hayati Said Agil Siradj MA 


Lalu tanggapan dari narasumber berikutnya yaitu Prof. Dr. Dodik Briawan MCN, Ilmu Gizi dan Sumberdaya Keluarga SEAFAST IPB, megatakan bahwa faktor penyebab terjadinya gizi buruk dan anak dengan kelebihan gizi (obesitas) adalah karena seringnya mengkonsumsi makanan yang tidak sehat, seperti jajanan yang beredar di luar atau yang sering kita temukan di sekolah-sekolah anak SD.

Prof. Dr. Dodik Briawan MCN 


Dampak dari makanan yang tidak sehat tersebut bisa menyebabkan tingginya Natrium yang kita konsumsi dan Pemanis buatan yang kesemuanya ini bisa menimbulkan penyakit-penyakit Degeneratif. Dimana penyakit tersebut akan sangat berdampak juga pada kondisi ibu yang sedang Hamil.

Oleh sebab itu Dr. Dodik merekomendasikan tentang pangan yang layak dikonsumsi, mulai dari Rumah, Sekolah, Pemerintah dan Media. Berikut penjelasannya :
  • Rumah, yaitu dengan membawa bekal setiap hari untuk keluarga kita
  • Sekolah, yaitu dengan mengadakan aturan untuk kantin Sekolah mengenai makanan yang layak untuk dikonsumsi anak-anak
  • Pemerintah, yaitu dengan memberikan edukasi untuk olahan pangan yang aman untuk masyarakat terutama Restaurant dan lain-lain
  • Media, kalo melalui media bisa juga dengan iklan layanan masyarakat

"Lalu seperti apa sih makanan dan minuman yang baik untuk dikonsumsi tersebut ?"

Dr. Dodik pun menjelaskan bahwa “Untuk anak Usia 2-5 tahun, biasakan makan 3 kali dalam sehari, lalu perbanyaklah makanan yang kaya akan Protein seperti Ayam, Daging, Ikan, Telur, Tempe, Susu dan Tahu. Kemudian perbanyak makan sayuran dan buah-buahan, batasi makanan cemilan yang manis-manis, terlalu asin dan berlemak, minum air putih sesuai kebutuhan, dan perbanyak aktivitas fisik setiap hari dengan bermain didalam atau diluar rumah dengan pengawasan orang tua”

Sedangkan menurut narasumber berikutnya yaitu ibu Dr. Damayanti Rusli S, SpAK, Phd. Seorang anggota UKK Nutrisi dan Penyakit Metabolik PP IDAI berpendapat bahwa penyebab Syndrome Stunting tidak hanya dari masalah Mal nutrisi tapi bisa juga melalui plasenta ibu selama masa kehamilan. 

Dr. Damayanti Rusli S, SpAK, Phd

Jika asupan makanan yang di konsumsi ibu hamil tidak memenuhi gizi yang seimbang, maka akan bisa menyebabkan kerusakan pada otak bayi atau akan memperkecil area otak bayi dalam kandungan, bayi baru lahir sampai anak berusia 2 tahun atau yang biasa disebut dengan 1000 hari pertama. Dimana pada masa ini, pemenuhan gizi sifatnya wajib dan tidak bisa ditawar.

Pendapat dari dua narasumber diatas juga didukung oleh perwakilan dari DPR RI yaitu ibu Siti Masrifah, yang akan membahas tentang masalah-masalah Mal Nutrisi pada masa perkembangan anak Jaman Now. Ibu Siti menjelaskan bahwa didalam perundang-udangan DPR RI terdapat undang-undang yang mengatur tentang Gizi Pangan, dimana pemerintah memberikan anggaran dan pengawasan tentang pelaksanaannya yang diperkuat oleh fungsi Legislasi untuk memperkuat payung hukum dalam kebijakannya.

Siti Masrifah dari DPR RI 

Pandangan Islam Untuk Permasalahan Kekurangan dan Kelebihan Gizi

Menurut Ibu Dr. Mursidah Thahir, sebagai perwakilan dari PP Muslihat NU, pengertian tentang Gizi anak dalam Islam yaitu sehat secara Fisik, Mental dan Spiritual.
  • Sehat Fisik, yaitu dengan menjaga lingkungan yang bersih dan sehat agar terhindar dari segala macam penyakit
  • Sehat Mental, yaitu merasa nyaman dihati, bisa mengontrol emosi atau tidak gampang marah, karena jika kita bisa mengontrol emosi maka Allah SWT pun akan memudahkan urusan-urusan kita
  • Sehat Spiritual, yaitu hal ini lebih difokuskan pada anak-anak, dimana meraka akan mudah menerima nasihat, melaksanakan ibadah dengan rajin dan bisa membedakan mana yang baik dan tidak baik dalam lingkungannya Selain itu makanan yang sehat dan baik juga dilihat Halal dan tidaknya makanan tersebut, seperti yang kita tahu bahwa dalam kitab Suci Al-Qur’an banyak terkandung ayat-ayat yang menjelaskan tentang makanan-makanan yang tidak layak untuk di konsumsi oleh umat Islam dan hal ini merupakan bukti Ketakwaan kita kepada Allah SWT.

Dr. Mursidah Thahir 

Jadi kesimpulannya apabila kita selalu mengkonsumsi makanan yang dianjurkan baik itu tentang nutrisinya, kebersihannya, dan kehalalannya. Maka In Sha Allah, kita dan keluarga akan terhindar dari hal-hal yang tidak kita inginkan termasuk, kekurangan fisik dan mental bagi anak-anak para penerus generasi bangsa.

Aamiin Ya Robbal Allamin….

46 komentar:

  1. Menjadi tanggung jawab kita semua tantang isu gizi buruk demi mencapai generasi emas 2045.

    BalasHapus
  2. semoga kita selalu bisa menyediakan asupan gizi baik dan seimbang bagi anak ya mbak :) amiiinn

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin....betul mba, sekarang harus lebih fokus soal makanan yg baik untuk anak

      Hapus
  3. stunting kayaknya emang jadi perhatian akhir-akhir ini ya. dulu rasanya orang cuek aja. tapi emang penting sih. dan orangtua musti lebih aware juga ya. mba, pan kapan share lebih banyak tentang stunting juga boleh niii

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul mba, harus lebih aware lagi untuk anak di jaman sekarang ini ya

      Hapus
  4. Aku baru tau loh klo ternyata pemberian pisang pd bayi usia Mpasi itu ternyata kurang baik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya akupun begitu, padahal dulu orang tua kita malah memberi makan pisang pada awal pemberian mpasi yah.

      Hapus
  5. Anak yg cerdas buah dari asupan yg baik ya kak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tentunya ya mas, segala yg terbaik itu menghasilkan hal yg baik pula

      Hapus
  6. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  7. Suamiku suka sayur, adeknya gak suka. Hasilnya suamiku jauh lbh tinggi dr adeknya. MAkanya ini anak2 jg kubiasakan makan sayur meski suka susah #curcol :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah hasil ketauan ta mba, padahal satu keturunan yah

      Hapus
  8. Agak miris ya..dinegeri pangan melimpah, Indonesia masih mengalami kendala gizi buruk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya aku juga baru tau, sangat miris sekali

      Hapus
  9. memang harus seimbang secara panduan dari kemenkes dan agama biar makanan/minuman yang kita konsumsi makin berkah

    BalasHapus
  10. aku sempat mikir anakku stunting lho soalnya badan dia kecil, ga gemuk-gemuk meski banyak makan. Tapi setelah diskusi sama salah satu blogger yang anaknya stunting, alhamdulillah kekhawatiranku tidak terbukti.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waahhh...alhamdulilah ya, terus aja berikan nutrisi2 yg disaran kan, ini pengaruh banget soalnya

      Hapus
  11. Tama itu contoh anak yang nggak stunting.. malah tingginya diatas rata rata ya mbak.. xixix jangkung

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah...karena dr pertama kali makan nasi, selalu kubiasakan makan sayur dan cukup protein, selain itu ada faktor keturunan juga

      Hapus
  12. Duuhh orang indonesia pendek pendek ternyata bukan bawaan yaa... Tapi karena ada kasus mal nutrisi ini... Hiks

    BalasHapus
  13. Ibu juga harus pandai mengolah makanan agar keluarha terjamin kebutuhan nutrisi dan gizinya.sehingga tidak terjadi malanutrisi seperti Stunting dan Obesitas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya harus pintar kita mengolah makanan, agar anak jg tdk bosen

      Hapus
  14. Ponakan ku banyak banget yang obesitas mbak. Sekalipun dia udah diet macem2 kayaknya faktor turunan dan ciri2 masih makan over deh tanpa ketahuan orang tuanya. Kadang kalau habis baca beginian aku suka kasian sm dia. Obesitas bahaya banget soalnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mba seharusnya dari orang tuanya yg membatasi, jgn malah senang anaknya kebanyakan makan terutama nasi. Aku juga membatasi pemberian nasi untuk anakku

      Hapus
  15. Siap menuju generasi emas..

    BalasHapus
  16. Suamiku suka sayur dan enggak milih makanan, aku pilih-pilih..Untung anak-anak lebih liat dan nurun Bapaknya..Jadi semua masuk aja. Alhamdulillah enggak ada masalah dengan tumbuh kembangnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu karena mamanya membiasakan untuk selalu masak sayuran untuk suami dan anak2 kan.

      Hapus
  17. Pemenuhan gizi keluarga menuju generasi cerdas

    BalasHapus
  18. Ibu yg kreatif memasak sayur, supaya anak mau memakanya, gizi terpenuhi. Anak sehat orang tua bahagia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul sekali mba, bahagia itu kalo kita dan keluarga sehat ya

      Hapus
  19. Nice info mba,, semoga makin banyak para orang tua yang teredukasi tentang stunting ini karena kalau di biarkan dampaknya akan sangat buruk..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sangat2 buruk mba, apalagi di jaman sekarang ini, banyak beredar makanan mal nutrisi, semoga kita dan keluarga terhindar ya.

      Hapus
  20. Tidak hanya kirang gizi yang bahasa, over gizi juga bahaya ya. Harus smart kasih asupan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba sesuatu yg berlebihan juga tdk baik, apalagi kurang.

      Hapus
  21. Miris banget kalo masih saja ada tetangga kita atau masyarakat kurang gizi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu karena kurangnya pengetahuan maka kita yg sudah tau wajib memberi pengertian untuk mereka

      Hapus
  22. Banyak uang lom tentu membentuk geberasi emas, karna kalo makanya jungfood terus bisa zonk

    BalasHapus
  23. Kasih sayang dan perhatian buat anak memang penting banget, apalagi dalam hal pemberian nutrisi, membuat anak tumbuh kembang sesuai usianya. Suka kasihan kalau ada anak stunting atau obesitas, bisa minder atau dibully. Semoga ke depannya anak-anak Indonesia bisa semuanya mendapatkan gizi seimbang.

    BalasHapus