Minggu, 05 November 2017

Kenali Kanker Payudara Sejak Dini Mulai Dari SADARI

Hal yang paling aku takutkan terjadi dalam hidupku atau keluargaku adalah tentang penyakit-penyakit degeneratif, salah satunya adalah Kanker. Tidak bisa dipungkiri bahwa setiap orang pasti tidak akan bisa menerima jika dirinya positif terkena kanker, namun pencegahan sejak dini harus dilakukan agar perkembangan sel kanker tidak menyebar kemana-mana. Bagi sebagian masyarakat tentunya ada yang berani atau tidak berani melakukan pemeriksaan. Hal ini dikarenakan keidaksiapan mereka untuk menerima kenyataan vonis dokter tentang penyakit tersebut.

Salah satu dari beberapa orang wanita mempunyai sel kanker yang kemungkinan akan berkembang. Fakta menunjukan bahwa di Indonesia kanker payudara merupakan pembunuh nomor satu pada wanita. Menurut sumber data dari Rumah Sakit Kanker Dharmais menunjukkan ada 60%-70% penderita kanker mulai melakukan perawatannya pada stadium akhir, padahal jika masyarakat mau melakukan pemeriksaan sejak dini maka penyembuhan terhadap penyakit tersebut dapat diatasi dengan cepat.

Awal pemeriksaan bisa melalui SADARI yaitu lakukan oleh diri sendiri dengan cara memeriksa lingkaran payudara memutar dari kiri kekanan atau sebaliknya, pemeriksaan ini bisa dilakukan sendiri pada waktu 7 hari setelah menstruasi, bisa dilakukan sambil tidur atau di kamar mandi. Lalu jika ditemukan benjolan, lakukan pemeriksaan secara SADANIS yaitu periksaan secara klinis ke Dokter Ahli Bedah Onkologi. Kemudian terakhir agar lebih akurat, lakukan juga pemeriksaan melalui Mamografi atau Biopsi.


Narasumber Forum Diskusi Philips Indonesia

Pemeriksaan melalui Mamografi ini merupakan pemeriksaan dengan hasil 95% Akurat. Dengan menggunakan metode mamografi ini, pada hasil investigasi Weil Cornell Medicine yang dipublikasikan pada bulan Agustus 2017 lalu, menunjukkan bahwa mamografi pada wanita berusia 40 tahun sampai 80 tahun dapat mengurangi kematian akibat kanker payudara hingga 40%, jika pemeriksaannya dilakukan sedari dini.

Dalam hal ini Philips Indonesia pun menunjukan dukungannya dengan mengeluarkan alat Mamografi Philips Microdose (dosis sinar x rendah), dimana Microdose ini menggunakan detector khusus yang mampu menghitung energy photon secara langsung menggunakan photon counting (special detector) sehingga hanya photon dengan energi level tertentu yang akan terkirim menembus jaringan payudara dan diterima oleh detector. Microdose ini juga memiliki kualitas pencitraan gambar yang sangat baik dengan dosis radiasi 50%-60% lebih rendah dibanding mamografi DR lainnya.

Seperti yang telah dilakukan oleh seorang survivor cancer yaitu ibu Graece Tanus yang aku jumpai dalam diskusi bersama Philips Indonesia pada tanggal 27 Oktober 2017 lalu. Pada saat beliau melakukan SADARI dan diketahui ada benjolan di sekitar payudaranya, ibu graece langsung melakukan SADANIS dan dokternya pun menyatakan kalo ibu graece positif terkena kanker payudara stadium 2. Lalu kemudian beliau melakukan serangkaian perawatan medis mulai dari operasi pengangkatan sampai melakukan kemotherapy.


Ibu Graece Tanus seorang Survivor Cancer

Namun semangatnya untuk menyitas kanker tidak pernah pudar, beliau berjuang melawan kankernya dengan dibantu oleh semua keluarganya dan terutama ibunya yang juga seorang Survivor Cancer. Dan sekarang setelah tujuh tahun ini beliau dinyatakan sembuh dari kanker. Seperti yang dikatakan Dr. Samuel J. haryono, Sp.B (K) Dokter Specialis Bedah Onkologi yang juga hadir dalam diskusi tersebut menyatakan bahwa "Pasien yang dinyatakan sembuh setelah 5 tahun lebih maka akan memperkecil resiko terkena kanker lagi." 

Selain kedua narasumber diatas, hadir pula Dr. Lily Sriwahyuni Sulistyowati, MM sebagai Direktur P2PTM Kemenkes RI kemudian Bapak Suryo Suwignyo, Presiden Direktur Philips Indonesia dan Ibu Linda Gumelar sebagai ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI). Dalam diskusi tersebut memberikan pencerahan bagi kita semua yang hadir bahwa, penyakit Kanker bukanlah akhir dari segalanya, jika kita mengetahuinya sejak dini, maka kemungkinan untuk sembuh total akan tercapai.



Maka pesan yang disampaikan dalam diskusi tersebut adalah jangan takut untuk melakukan pemeriksaan sebelum terlambat untuk ditangani, jangan takut terhadap Vonis penyakit apapun itu, karena hal itu bukanlah akhir dari segalanya. Jika ada teman atau saudara kita yang sudah terkena kanker, maka janganlah menyuruh mereka untuk bersabar, karena kata-kata Sabar itu hanya milik mereka ujar ibu Linda Gumelar. Dukunglah mereka untuk terus bersemangat melawan penyakitnya.

0 komentar:

Posting Komentar