Jumat, 03 November 2017

“Back To Nature” Tantangan Untuk Pola Hidup Sehat Dalam Diskusi Asian Pasific Food Forum

Mendengar atau membaca kalimat "Back To Nature" membuat aku menjadi semakin bersemangat untuk menjalani hidup sehat. Tapi cara untuk memulainya yang membuat aku bingung, jujur saja pengetahuan tentang khasiat tumbuhan-tumbuhan dan cara pengolahannya belum terlalu paham. Banyak sih info-info tentang berbagai macam tumbuhan atau buah-buahan yang bagus untuk kesehatan, tapi karena aku orangnya terlalu berhati-hati untuk mengkonsumsi makanan, jadi masih ada perasaan ragu untuk memulai. Mungkin ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan tentang konsep Back To Nature tersebut.

Akan tetapi Alhamdulillah pada tanggal 26 Oktober 2017 Blogger Crony Community mengundang aku untuk hadir di acara yang diselenggarakan oleh Kementrian Kesehatan. Tema dalam Diskusi ini adalah untuk membahas masalah Tantangan Kesehatan, Sistem Pangan dan Lingkungan Hidup, dimana dalam hal ini Pemerintah Republik Indonesia akan berkolaborasi dengan EAT Foundation untuk menyelenggarakan kegiatan yang tergabung dalam Asia Pacifik Food Forum (APFF)

(dok.twitter.KemenkesRI)

Alasan mengapa Pemerintah Indonesia mempelopori kegiatan APFF ini dan juga sekaligus sebagai tuan rumah adalah karena Indonesia masih mempunyai permasalahan yang besar mengenai ketiga hal yang dijadikan topik bahasan tersebut. Yups memang betul sekali hal itu tidak bisa dipungkiri, masalah system pangan dan lingkungan hidup selalu menjadi sorotan utama bagi masyarakatnya Indonesia, karena kedua hal ini akan membawa dampak bagi kesehatan.

Tentunya selain Pemerintah, kita sebagai masyarakat juga harus mendukung atau mensupport kegiatan ini, karena tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk memperbaiki sistem kehidupan dalam masyarakat Indonesia itu sendiri. Oleh sebab itu dalam forum tersebut akan menghadirkan 500 peserta dari beberapa Stackholder (Pemangku Kepentingan) dalam bidang kesehatan, sistem pangan dan lingkungan hidup, beberapa diantaranya yang akan hadir adalah Pemerintah, Akademisi atau Ilmuwan, Organisasi non pemerintah (NGOs), Politisi serta Pelaku Bisnis, dan mereka berasal dari berbagai Negara

Pembahasan dalam APFF tersebut untuk membuat masa depan yang baik bagi kehidupan manusia di Planet Bumi. Melalui riset-risetnya mereka akan mendapatkan masukan dari para praktisi-praktisi terbaik yang mahir di bidangnya masing-masing, mereka akan saling membagikan pengalamannya mengenai trend-trend baru. Selain itu mereka juga akan memberikan peluang untuk saling bersinergi dalam membangun praktek-praktek Industri dan bertukar gagasan antar sesama stackholder, sehingga pemerintah Indonesia dengan senang hati memberikan fasilitas untuk para stackholder Se-Asia Pacifik.

Tujuan diadakannya kegiatan dalam forum ini adalah untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat agar lebih mengerti mengenai asupan makanan yang dikonsumsi, karena perubahan gaya hidup akan membuat penyakit tidak menular semakin meningkat. Kunci utamanya adalah meningkatkan kesadaran pada masyarakat akan pentingnya pengetahuan tentang segala jenis makanan yang layak atau tidak layak dikonsumsi, demi untuk merasakan hidup sehat lebih lama.

Asia pacific Food Forum telah terselenggara tepatnya pada tanggal 30-31 Oktober 2017, namun sebagai gambaran disini aku akan bahas sedikit mengenai hasil diskusi kami para blogger dan beberapa pemangku kepentingan (Stackholder) yang hadir dalam APFF. Salah satunya pada kesempatan itu selain ada perwakilan dari Kementrian Kesehatan, juga telah hadir perwakilan dari EAT Foundation yang berasal dari Norwegia Mr. Simmon dan Mr. Markus, serta perwakilan dari pelaku bisnis yaitu Ibu Helianti sebagai founder brand JAVARA. Tentunya sebagian pembaca sudah ada yang mengetahui tentang produk JAVARA kan.

Kika : Ibu Helianti dan perwakilan perwakilan Kemenkes (dok.twitter.kemenkesRI)
Para Blogger dan perwakilan EatFoundation 
Javara pertama kali didirikan oleh ibu Helianti Hilman, beliau lulusan Kings College University Of London. Javara didirikan bertujuan untuk membantu petani kecil di Indonesia untuk meningkatkan dan melestarikan produk pangan lokal. Dalam kegiatannya Javara itu sendiri adalah menggali rahasia warisan pangan dalam alam Indonesia, karena ternyata banyak terdapat tumbuhan liar di Indonesia yang banyak mengandung nutrisi, namun sayangnya karena minimnya pengetahuan tentang manfaat tumbuh-tumbuhan, walhasil masih banyak masyarakat Indonesia yang tidak peka dan malah mengabaikannya.

Berbagai macam ragam bentuk tanaman yang mengandung banyak nutrisi di Indonesia seperti, Kacang-kacangan, Akar, Batang, Biji-bijian, Bunga, Kulit kayu, Buah-buahan, umbi-umbian dan daun-daunan. Seperti contoh pada Daun Kelor menurut penjelasan ibu Helianti bahwa Daun Kelor memiliki kandungan protein 14x lebih banyak, bahkan hampir setara dengan ASI. Sedangkan kacang-kacangan juga kaya akan protein dan daun-daun hijau yang biasa dijadikan lalapan di Indonesia, bahkan di Negara Belgia sudah dibuat ekstraknya untuk mengobati penyakit Elzaimer. Waw hebat bukan…

Saat ini program terbaru dari Javara mau bekerjasama dengan masyarakat Flores untuk membuat Mie Instan dari Daun kelor yang berasal dari kebun sendiri, karena disana akses untuk membeli bahan makanan masih kesulitan. Dan bahkan di korea pun, tanaman rumput laut selalu dijadikan Sop Rumput Laut jika untuk menyuguhkan tamu-tamu undangan suatu pesta acara keluarga. 

Mie Sayur produksi Javara
Nah banyak sekali kan fakta-fakta menarik dalam diskusi tersebut, beberapa contoh gagasan yang dikemukakan ibu Helianti diatas baru sebagian kecil yang kita ketahui, dan tentunya semua gagasan lainnya dibahas lebih detil dalam acara Asian Pasific Food Forum. Oleh sebab itu Indonesia adalah tempat yang tepat sekali sebagai penyelenggara pertama pertemuan antar beberapa stackholder dari berbagai Negara.

Sekarang aku semakin mengerti kenapa masyarakat yang tinggal didaerah pedesaan bisa selalu sehat dan berumur panjang, karena tentunya apa yang mereka konsumsi merupakan makanan-makanan sehat yang berasal dari alam atau kebun sendiri dan masih bersifat alami atau belum melalui proses pengolahan pabrik. Tentunya sangat berbeda sekali dengan masyarakat kota yang lebih mau mengkonsumsi makanan pabrikan.

Senang rasanya aku bisa turut hadir dalam diskusi tersebut, akhirnya sekarang aku menjadi lebih mengerti tentang khasiat-khasiat makanan yang bersumber dari alam, dan sebagai masyarakat Indonesia tentunya aku merasa bangga dan semakin mencintai negeri ini, negeri yang kaya akan sumber alamnya namun hanya sedikit manusia yang bisa memanfaatkannya.

Yuk para pembaca semuanya sudah saatnya kita harus peduli akan kesehatan kita dan keluarga, karena sebenarnya untuk menjadi sehat itu tidak harus mahal jika kita mau menggali lebih dalam lagi mengenai sumber pangan yang bermutu dan berkualitas dalam alam Indonesia.

1 komentar:

  1. Aku juga sebisa mungkin konsumsi makanan yg bener2 dr alam. Dalam arti bener2 jarang bgt makan makanan instan..
    Iya bener, penduduk di pedesaan lebih sehat pasti krn memang semuanya serba alami ya.

    BalasHapus